tulisan ini pernah diterbitkan di sini
Mendung menggelayut di langit Jogja, awan hitam
berjejer di singgasana langit. Aku berdiri mencari celah berkas mentari,
tapi rintik hujan seakan memastikan keberadaannya.
“Hujan ya mbak”…sela
anggun di tengah lamunan kerinduanku, aku menoleh ke arahnya, Anggun
langsung memposisikan dirinya tepat di samping ku sekarang. “Iyaa…udah mule gerimis dek”. Aku melanjutkan keasyikanku memandang langit, menengadahkan tangan untuk meresapi kesenduan yang dibawa gerimis.
“Yaaah…padahal umi dan abi sedang di perjalanan mo ke sini, wah keujanan dah…“aku
memperhatikan raut kekecewaan nya terhadap hujan, sedangkan aku sedang
menghantarkan rinduku lewat rinainya. Yah.. “kerinduan”, rindu yang
tiba-tiba semakin merekah semenjak kepulanganku dua bulan yang lalu.
“Amaaak…amakk…”aku
mencari keberadaan amak Maghrib itu, saat itu aku baru menyelesaikan
tugas ku menyiram bunga. Yah…salah satu kebiasaan burukku senang sekali
bermain air sebelum Maghrib. Aku masuk rumah sembari mencari amak ku
tersayang, di kamar kecilnya aku mendengar amak berucap beragam doa yang
samar-samar. Amak baru selesai shalat Maghrib, beliau melanjutkan
berdoa yang rasanya itu panjaaang sekali….”lamaanyeee...”gumamku setelah bosan mengintip.
Aku bergegas membersihkan diri dan menanti bapak pulang dari sawah untuk shalat jamaah.
Senyum khas bapak menyapa aku yang duduk di depan TV menanti untuk shalat bersama.
Di akhir shalat bapak melanjutkan dengan dzikir, kemudian doa bersama yang bapak bacakan dengan lantang, sembari aku yang menyaut aamiin dari belakang.
Senyum khas bapak menyapa aku yang duduk di depan TV menanti untuk shalat bersama.
Di akhir shalat bapak melanjutkan dengan dzikir, kemudian doa bersama yang bapak bacakan dengan lantang, sembari aku yang menyaut aamiin dari belakang.
“Ya…Allah…mudahkan anak-anakku dalam memenuhi ujian
darimu, mudahkan dan kuatkan mereka dalam menyelesaikan belajarnya,
jadikan mereka anak yang shalih dan shalihah, jauhkan mereka dari
marabahaya, dan jaga mereka dalam penjagaan terbaik-MU, kepada Mu lah
kami meminta, kepadaMU lah kami memohon”…..
Itu untaian doa
yang bapak sebut-sebut sehabis shalat, ahh. Siapa yang tak terenyuh
ketika di doakan dengan penuh permohonan seperti itu, doa yang hampir
sama setiap waktu bapak layangkan, bingkisan doa untuk keberhasilan
anak-anaknya.
Doa-doa yang sering bapak ucapkan seakan terus
menegur hatiku yang kaku. Sepulang dari pulang kampung aku banyak
merenung, aku benar-benar merindu, perasaan takut tak bisa membahagiakan
mereka. Bagaimana bisa membahagiakan, sedang berbakti seperti membantu
mereka itu rasanya tak mungkin. Jarak memisahkan aku untuk tidak bersama
amak dan bapak.
Tak lama setelah pulang kampung, aku memutuskan
untuk pindah ke asrama. Saran dari temanku aku dapat belajar banyak di
gedung megah milik kampus itu. Hari-hari di asrama, ditempa beragam
kebiasaan baik dan pengaruh yang baik. Anggun sebenarnya yang menjadi
titik perubahanku, anggun senang sekali bercerita tentang kedua orang
tuanya, ditambah anggun anak yang cerdas dan hafalan al-Quran nya juga
amat bagus. Aku amat cemburu.
Sekarang…dua bulan terlewati
semenjak kembali ke tanah rantau. Aku asik menikmati suasana kerinduan
di bawah langit Jogja yang kelabu…aku merindukan mereka, di bakar pula
api cemburu karena orangtua anggun teman sekamar ku akan mengunjungi
dirinya. Rintik hujan seakan berubah tajam menembus kalbuku, kerinduan
itu seakan menyisihkan sebuah kata tak adil. Aku tak pernah sekali pun
dikunjungi, bahkan amak tak mungkin ke sini sebelum aku lulus.
Perkenalan ku pada hijab…
Karena
di kampus semua mahasiswi memakai jilbab, jadi aku tak pernah mencari
alasan mereka mengenakannya. Hal itu hanya sebatas peraturan yang harus
diikuti. Toh banyak yang lainnya tak menggunakan di luar proses belajar.
Sampai
suatu ketika aku membaca sebuah hadits yang menyatakan bahwa seorang
wanita dapat menyeret 4 golongan laki-laki ke neraka; ayahnya, suaminya,
saudara laki-laki, anak laki-laki jika ke empat golongan itu tidak
menjaga amanah dan menjaga tanggung jawabnya.
Aku langsung
tersentak, bayangkan aku sendiri yang menyerat orang-orang yang
kusayangi. Takut sekali rasanya…Jika aku tak menjaga diriku dengan baik
dan tak menjadi tanggung jawab yang baik aku sendiri yang menyeret
mereka ke lembah paling menyiksa. Bayang-bayang amak yang menengadahkan
tangan berdoa amat lama, bayang-bayang bapak yang berdoa dengan penuh
keyakinan dan pengharapan… belum lagi tiap ku lihat bukti keletihan yang
mereka bawa di tiap malam. Amak yang sering jatuh sakit, dan bapak yang
mulai merasa keletihan. Lalu aku…??? Aku bahkan belum menjadi alasan
mereka untuk mendapatkan surga-NYA. Malah takutnya aku lah yang menjadi
alasan kelalaian terhadap anak hingga menyeret mereka ke neraka.
Semenjak
itu aku memutuskan untuk belajar banyak, bagaimana jilbab yang
sebenarnya, tingkah dan etika yang benar. Lambat laun aku tau bahwa
jilbab itu wajib…dan aku semakin mantap untuk mengenakannya tanpa peduli
beragam caci maki.
Setahun berlalu…
Aku pulang dengan
tampilanku yang baru. Aku mengenakan jilbab ungu menjulur hingga dada,
lengkap dengan rok dan kaus kaki. Bapak dengan senyum kebanggaannya, dan
amak masih dengan raut yang tak percaya…
Ini hadiah untuk kalian
mak…pak… kalian lah alasan ku untuk berbenah, jika aku tak dapat
membahagiakan kalian di dunia-Nya yang sempit ini, aku sangat ingin
dapat menolong dan berkumpul dengan kalian di surganya nanti…
Jika
aku tak menjadi anak kalian yang shalihah bagaimana mungkin doaku akan
menjadi penolong kalian nanti. Jika aku tak berbenah dan memperbaiki
diri aku takut sendiri di nerakanya, padahal aku sangat ingin berkumpul
dengan orang-orang yang kucinta di surga-NYA.
Kalian adalah alasan
ku dalam diam, tiap ribuan tanya menjurus mencari alasanku berubah.
Kalian cinta sejati yang mampu menerangi hati, mengikuti tiap langkah
dengan doa-doa yang panjang. Nanti aku akan dengan bangga menyatakan
kalian lah orang tua yang membesarkan dan menjaga anak gadisnya ini.
Orang tua yang menumbuhkan kesadaran tentang hakikat ketulusan dan
pengorbanan, dan cinta berpihak pada kalian. Aku mencintai sepenuh hati.
Jangan lah sampai aku adalah alasan sebuah tangis kekecewaan dari air
mata bening kalian. Tuhan…izinkan aku membahagiakan keduanya.
No comments:
Post a Comment